TEHERAN, PAREINFO.COM— Iran memperkenalkan rudal hipersonik Fattah Hypersonic Missile sebagai salah satu teknologi persenjataan paling canggih yang dimiliki negara tersebut. Rudal ini diklaim memiliki kemampuan manuver tinggi serta kecepatan ekstrem yang membuatnya sulit dideteksi dan dicegat oleh sistem pertahanan udara modern.
Rudal Fattah pertama kali diperkenalkan secara resmi oleh Islamic Revolutionary Guard Corps pada tahun 2023. Peluncurannya turut disaksikan oleh Presiden Iran saat itu, Ebrahim Raisi, sebagai bagian dari penguatan sistem pertahanan strategis negara tersebut.
Berdasarkan data militer Iran, rudal hipersonik Fattah memiliki kecepatan mencapai Mach 13 hingga Mach 15 atau sekitar 16.000–18.000 kilometer per jam. Kecepatan ini memungkinkan rudal bergerak sangat cepat sehingga sulit dilacak radar konvensional.
Selain itu, Fattah memiliki jangkauan sekitar 1.400 kilometer dengan hulu ledak yang mampu bermanuver di atmosfer maupun luar atmosfer. Teknologi manuver tersebut membuat lintasan rudal dapat berubah-ubah, sehingga lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan seperti Iron Dome maupun Patriot Missile System.
Komandan Angkatan Udara IRGC, Amir Ali Hajizadeh, mengatakan pengembangan rudal ini merupakan bagian dari strategi pertahanan Iran menghadapi ancaman militer modern.
“Rudal Fattah memiliki kemampuan menembus seluruh sistem pertahanan rudal yang ada saat ini. Teknologi hipersonik ini memberi Iran keunggulan strategis dalam sistem pertahanan,” ujar Hajizadeh dalam pernyataannya kepada media pemerintah Iran.
Ia menjelaskan, teknologi utama Fattah terletak pada mesin bahan bakar padat dan kendaraan luncur hipersonik (hypersonic glide vehicle) yang memungkinkan rudal melakukan manuver tajam pada kecepatan tinggi.
Sementara itu, analis militer dari International Institute for Strategic Studies, Fabian Hinz, menilai pengembangan rudal hipersonik menunjukkan kemajuan signifikan teknologi militer Iran.
“Jika kemampuan yang diklaim Iran terbukti akurat, maka rudal ini dapat meningkatkan daya tangkal Iran karena sistem pertahanan udara saat ini sangat sulit mencegat senjata hipersonik,” ujarnya dalam analisis keamanan kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, sejumlah negara Barat masih mempertanyakan sejauh mana kemampuan operasional rudal tersebut. Pengujian lanjutan dan data teknis yang lebih rinci dinilai diperlukan untuk memastikan klaim kemampuan hipersonik dari rudal Fattah.
Dengan kehadiran rudal ini, Iran menegaskan posisinya sebagai salah satu negara yang terus mengembangkan teknologi senjata hipersonik, yang saat ini juga dikembangkan oleh negara besar seperti United States, Russia, dan China.(P)










